Penerapan Algoritma K-Means Dalam Mengurangi Tingkat Buta Aksara Di Indonesia Sebagai Penunjang Keputusan

  • Murniasih
  • Amril Mutoi Siregar
  • Deden Wahiddin
Keywords: algoritma K-means, buta aksara, clustering, data mining

Abstract

Buta aksara adalah saat seseorang tidak mampu untuk membaca dan menulis sebuah kalimat sederhana dalam
berbagai bahasa. Data terakhir Badan Pusat Statistika (BPS) pada tahun 2017 jumlah penderita sebanyak 3,387,038
pada usia 15-59 tahun. Dari banyaknya jumlah penderita buta aksara tersebut, maka perlu adanya penelitian
mengenai penyebaran buta aksara di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengelompokan provinsi
buta aksara dengan metode algoritma k-means dengan teknik clustering pada data mining. Metode algoritma kmeans merupakan pengelompokan data yang sama pada suatu kelompok tertentu dan pengelompokan data yang
berbeda pada kelompok lain. Pada penelitian ini mengelompokan provinsi ke dalam beberapa cluster berdasarkan
kemiripan data, maka data provinsi dengan karakteristik yang sama dikelompokan menjadi satu cluster dan data
provinsi dengan karakteristik yang berbeda akan dikelompokan kedalam cluster yang lain. Jumlah data yang
digunakan sebanyak 34 data, menggunakan atribut provinsi, umur 15+, umur 15-45 dan umur 45+. Perhitungan
pada penelitian ini dilakukan dengan cara manual menggunakan Microsoft Excel kemudian dievaluasi dengan
menggunakan tools Rapidminer 9.2.0. Penelitian ini menghasilkan pengelompokan provinsi penderita buta
aksaran tertinggi dengan jumlah dua provinsi, sepuluh provinsi penderita buta aksara kategori sedang dan 22
provinsi penderita buta aksara kategori rendah

Author Biography

Murniasih



References

[1] U. D. Negara et al., “Uud Ri 1945,” no. 2, pp. 1–19, 1945.
[2] Larasati, C 2018. 3,3 Juta Penduduk Masih Buta Aksara. (online):
http://news.metrotvnews.com/peristiwa/gNQnzxVb-3-3-juta-penduduk-masih-buta-aksara (06
desember 2018).
[3] Badan Pusat Statistik 2017. Persentase Penduduk Buta Huruf menurut Kelompok Umur, 2011-
2017. (online): https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/ view/id/ 1056 (01 Desember 2018).
[4] K. Fatmawati and A. P. Windarto, “Data mining: Penerapan Rapidminer Dengan K-means
Cluster Pada Daerah Terjangkit Demam Berdarah Dengue (Dbd) Berdasarkan Provinsi,” Comput.
Eng. Sci. Syst. J., vol. 3, no. 2, p. 173, 2018.
[5] Siregar, A.M and Puspabhuana, A 2017.Data mining. Kekota Group. Surakarta.
[6] M. Fauzi, “Penerapan Algoritma K-Means Clustering Untuk Mendeteksi Penyebaran Penyakit
TBC ( Studi Kasus : Di Kabupaten Deli Serdang ),” vol. 1, no. 2, 2017.
[7] K. Handoko, “Penerapan Data mining Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pada Instansi
Perguruan Tinggi Menggunakan Metode K-Means Clustering (Studi Kasus Di Program Studi Tkj
Akademi Komunitas Solok Selatan),” Teknosi, vol. 02, no. Universitas Putera Batam, pp. 31–40,
2016
[8] Larose, DT 2005. Discovering Knowledge in Data: An Introduction to Data mining, John Willey
& Sons, Inc. (online):
https://pdfs.semanticscholar.org/f415/6a05a47fdeda30638e10954d3674cc056ab6.pdf (06
Desember 2018).
[9] Han, J, Kamber, M, & Pei, J 2006. Data mining: Concept and Techniques, Second Edition,
Waltham: Morgan Kaufmann Publishers.
[10] Hoffer, Jeffrey A., Prescott Mary B., Mcfadden, Fred R 2007. Modern Database Management.
New Jersey: Perason Prentice Hall.
[11] Turban, E 2005. Decision Support Systems and Intelligent Systems Edisi Bahasa Indonesia Jilid
1. Andi. Yogyakarta. (online). https://www.kajianpustaka.com /2017/09/data-mining.html(11
Desember 2018
[12] Andayani, S 2007. Pembentukan cluster dalam Knowledge Discovery in Database dengan
Algoritma K Means. Jurnal, semnasIF 2007. Yogyakarta: Fakultas Matematika dan Pendidikan
Matematika Universitas Negeri Yogyakarta.
[13] Primarta, R 2017. Belajar Machining Learning, Informatika. Bandung
Published
2020-01-01