KASUS RENDAH HARGA DIRI PADA SISWA SMKN LATAR LAYANAN PENDIDIKAN DI SMKN SURABAYA
Abstract
This study aims to examine the dynamics of low self-esteem among a group of vocational high school students in Surabaya and to evaluate the effectiveness of a group psychoeducation intervention based on cognitive approaches and positive affirmation in improving their self-confidence. The methods included interviews, classroom observations, SSCT, IST, 16PF, and the Rosenberg Self-Esteem Scale (pre–post assessment). Five students participated, all of whom exhibited core symptoms such as social withdrawal, feelings of worthlessness, anxiety, sensitivity to criticism, and limited self-expression. The assessment results revealed substantial internal conflicts related to self-concept, particularly guilt, fear, and doubts about personal abilities. Family factors, repeated social rejection, and bullying related to physical appearance further contributed to emotional instability and passive behaviors. IST outcomes indicated varied intellectual abilities, with strengths in visual spatial skills and weaknesses in numerical and abstract reasoning. The Rosenberg pre–post test analysis demonstrated a significant improvement in self-esteem (p = 0.005), indicating that group psychoeducation effectively fosters healthier self-perceptions. These findings highlight the importance of social support, self-concept strengthening, and collaborative strategies between schools and families to create an environment that nurtures adolescents’ self-esteem development.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika rendahnya harga diri pada sekelompok siswa SMKN Surabaya serta mengevaluasi efektivitas intervensi psikoedukasi kelompok berbasis pendekatan kognitif dan afirmasi positif dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, SSCT, IST, 16PF, serta Rosenberg Self-Esteem Scale (pre–post test). Peserta penelitian terdiri dari lima siswa yang menunjukkan gejala utama berupa penarikan diri sosial, perasaan tidak berharga, kecemasan, sensitivitas terhadap kritik, serta keterbatasan dalam mengekspresikan diri. Hasil asesmen menunjukkan bahwa seluruh siswa mengalami konflik internal yang kuat terkait konsep diri, khususnya rasa bersalah, ketakutan, dan keraguan akan kemampuan diri. Faktor keluarga, penolakan sosial, serta ejekan terkait penampilan turut memperburuk kondisi emosional dan perilaku mereka. Hasil IST mengindikasikan kemampuan intelektual yang bervariasi, dengan kecenderungan kekuatan pada aspek visual-spasial dan kelemahan pada kemampuan berhitung dan abstraksi logis. Hasil pre–post Rosenberg menunjukkan peningkatan harga diri yang signifikan (p = 0.005), menandakan bahwa psikoedukasi kelompok efektif membantu siswa membangun persepsi diri yang lebih adaptif. Penelitian ini mengimplikasikan pentingnya dukungan sosial, penguatan konsep diri, serta strategi sekolah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang memfasilitasi perkembangan harga diri remaja.

