PERBEDAAN SELF-DISCLOSURE ANTARA KELUARGA DAN TEMAN SEBAYA PADA MAHASISWA IAIN LHOKSEUMAWE
DOI:
https://doi.org/10.36805/3vab4h87Keywords:
Self-Disclosure, Family, Peers.Abstract
Self-disclosure plays a crucial role in building healthy and deep interpersonal relationships, both within the context of family and friendship. Openness fosters trust, self-understanding, and supports mental health. This study aims to determine the differences in self-disclosure between family and peer groups in college students. Conversely, a lack of self-disclosure can lead to isolation, misunderstandings, communication barriers, and even a decline in mental health. This study used a quantitative method with a comparative causal approach, namely comparison or difference. The sample consisted of 86 active college students selected using random sampling. The research instrument used was a self-disclosure scale, distinguishing the topics discussed. The data were analyzed using the Mann-Whitney U-Test because the data were not normally distributed. The results of the study showed that first, the picture of self-disclosure between family and peers in students at the Faculty of Ushuluddin Adab and Da'wah IAIN Lhokseumawe was both in the moderate category, with a percentage of 71% self-disclosure in family and 78% self-disclosure in peers. Second, there was a significant difference in self-disclosure between family and peers in students. Based on the results of the study, the highest self-disclosure occurred in peers with an average of 99.11 compared to self-disclosure in families with an average of 73.89. Differences in self-disclosure as seen in the aspects of accuracy and honesty were seen in peers and the aspect of closeness was seen in families.
Self-disclosure memiliki peran penting untuk membangun hubungan interpersonal yang sehat dan mendalam baik dalam konteks keluarga maupun pertemanan, melalui keterbukaan menumbuhkan kepercayaan, memahami diri sendiri serta mendukung kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-disclosure antara keluarga dan teman sebaya pada mahasiswa. Sebaliknya ketiadaan self-disclosure dapat menyebabkan isolasi, kesalahpahaman, hambatan komunikasi bahkan menurunnya kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis kausal komperatif yaitu perbandingan atau perbedaan. Sampel penelitian sebanyak 86 mahasiswa aktif yang dipilih secara random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala self-disclosure dengan membedakan subjek pembahasan. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U-Test karena data tidak berdistribusi secara normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama gambaran self-disclosure antara keluarga dan teman sebaya pada mahasiswa di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Lhokseumawe sama-sama berada pada kategori sedang, dengan presentase sebesar 71% self-disclosure pada keluarga dan 78% self-disclosure pada teman sebaya. Kedua terdapat perbedaan yang signifikan self-disclosure antara keluarga dan teman sebaya pada mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian self-disclosure tertinggi terjadi pada teman sebaya dengan rerata 99,11 dari pada self-disclosure pada keluarga dengan rerata 73,89. Perbedaan melakukan self-disclosure seperti terlihat pada aspek ketepatan dan kejujuran terlihat pada teman sebaya dan aspek kedekatan terlihat pada keluarga.
Downloads
References
A. Supratiknya, 1995, “Komunikasi Antarapribadi”, Tinjauan Psikologis (Jakarta: Kanisius): 14
Akbar, Z., & Faryansyah, R. (2018). “Pengukapan Diri di Media Sosial”. IKRA-ITH Humaniora: Jurnal Sosial Dan Humaniora, 2(2), 94–99.
Ayu F Tampubolon, 2023,“Hubungan Antara Keterbukaan Diri Dengan Komunikasi Interpersonal Pada Siswa Sma Hosana Medan Skripsi,”.
Athira Rafidha Firual and Sugeng Hariyadi, (2022) “Pengaruh Interpersonal Trust Dan Intimate Friendship Terhadap Self-Disclosure Generasi Z Pengguna Twitter,” Journal of Social and Industrial Psychology 11, no. 1 :44–52.
Alman, A., dan Taylor, D., “Family Communication: Theory and Research”, (New York: Routledge, 2011), h.45.
Altman, I., & Tailor, DA, (1973). Penetrasi Sosial: Pengembangan Hubungn Interpersonal.
B., (2008)“Pengembangan Inventori Self- Disclosure Bagi Siswa Usia Sekolah Menengah Atas.” Jurnal pendidikan, 2536-453-1: h. 169-174.
Bowlby, John. “Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.
Collins, N. L. & Miller, L. C. 1994 “Self-disclosure and Liking: A meta-analytic review”. Psychologic Bulletin, 116: h. 457-475.
Dewi Esti Almawati, 2021 “Self-Disclosure Pada Pertemanan Dunia Maya Melalui Media Sosial Twitter”. Riau, Universitas Islam Riau, Fakultas Ilmu Komunikasi.
Departemen Agama RI, Al-Qurandan Terjemahnya (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2019), QS. Al-Hujurat ayat 12.
Devito, J.A. The Interperdonal Communication Book Fourth Edition, 1986.
Gainau Maryam B., (2008), "Pengembangan Inventori Self- Disclosur Bagi Siswa Usia Sekolah Menengah Atas”. Jurnal Ilmu Pendidikan 2536-453-1: h. 169-74.
Ibrahim. A, dkk, 2018, “Metodologi Penelitian”, Gunadarma Ilmu.
Jayanti Ulli, (2020), "Keterbukaan Diri Anak Kepada Orangtua Mengenai Hubungan Asmara (Studi Keterbukaan Diri Anak Yang Tinggal Terpisah Dengan Orang Tuanya Mengenai Hubungan Asmara)," Jurnal Komunikasi: h. 1-25.
Joseph A. Devito, 2011, “Komunikasi Antarmanusia”, Alih Bahasa: Ir. Agus Maulana (Tanggerang Selatan: Krisma), h.64
John W. Thibat dan Harold H. Kelley, “The Sosial Psychology of Groups”, (New York: Wiley, 1959), h. 21.
Prihantoro, E., Damintana, K. P. I., & Ohorella, N. R, (2020), "Self-Disclosure Generasi Milenial Melalui Second Account Instagram," Jurnal Ilmu Komunikasi 18, no. 3: h. 312
Rakhmawati, N., (2020), “Self-disclosure among Indonesia student: A study on the role of peer relationships”, Jurnal Psikologi, 17(2): h. 123-135.